Latest Entries »

menemui error ini  [`$'in\r''] di CYGWIN ??

lakukan 4 langkah ini di konsol CYGWIN… =)

  • cd;pwd
  • ~/.bash_profile
  • export SHELLOPTS
  • set -o igncr

Gudlak

Sering kita lihat difilm, di masa depan kita tidak perlu lagi layar monitor untuk melihat data digital.  Tak perlu lagi kibor untuk mengetik.  Cukup memencet tombol diudara untuk melakukannya, dan layarpun akan ditampilkan diudara.  Apakah ini cuma imajinasi saja?  Tidak, hal ini sudah dapat dinikmati saat ini.  Walaupun tidak sehebohyang digambarkan di film, saat ini teknologi kita sudah mencapai tahap dimana data digital sudah bisa dihubungkan dengan objek dunia nyata secara langsung.  Dengan webcam, dulu kita hanya bisa menangkap gambar dan menampilkannya di layar, tapi sekarang kita bisa menambahkan data digital juga.  Kalau dulu yang ditampilkan hanya wajah kita, sekarang di sekeliling wajah kita akan tertampil data siapa nama kita, tanggal lahir dan sebagainya.  Kita juga bisa menambahkan hal lainnya secara digital.  Kalau didunia nyata kita tidak memakai topi, dilayar kita bisa memakai topi.  Hal ini bisa kita nikmati karena ada teknologi yang bernama augmented reality – kenyataan yang ditambahkan.

Secara mudah hal ini sudah bisa dinikmati dengan komputer kita, tapi banyak orang yang kurang puas, kita ingin seperti difilm dimana benar-benar data dan kenyataan bercampur, bukan lewat dilihat dimonitor komputer atu laptop.  Saat ini sudah mulai dikembangkan alat yang mensupportnya, jika kita ingin menikmati teknologi ini di layar monitor, kita bisa mencobanya di handphone kita.  Dengan mobilitas handphone yang tinggi, feel untuk menikmati augmented realitiy ini lebih terasa.  Misalnya, kita bisa berjalan menyusuri  koridor sambil melihat layar handphone, dan di layar akan ditampilkan suasana pantai atau horror, tentunya ini bisa menjadi hal yang menarik tanpa perlu susah-susah membawa komputer atau laptop.  Kalau kurang puas dengan handphone, kita bisa menikmati augmented reality ini secara lebih hidup dengan alat khusus. Saat ini alat yang sudah ada berbentuk kacamata yang kacanya berupa layar yang menampilkan pemandangan didepan kita dengan data tambahan.  Walaupun memang belum sempurna, hal ini telah membuka jalan baru menuju kehidupan virtual.

Banyak lagi hal tak terbatas yang bisa kita lakukan dengan augmented reality ini, itu semia tergantung imajinasi kite karena memang dari imajinasilah hidup kita menjadi lebih baik.  Akan sangat banyak kemudahan yang  bisa kita dapat, misalnya saat kita melihat papan nama ruang “B101” disekelilingnya kan terlihat nama kuliah, dosen dan mahasiswa yang ada saat itu, kita tak perlu lagi melongok kedalam kelas untuk tahu.  Atau saat kita bertemu teman kita, disekelilingnya bisa kita lihat status facebook-nya atau blog yang dimilikinya, ini akan sangat menyenangkan.  Disaat teknologi sudah ditemukan, saat inilah tugas kita sebagai engineer untuk mengaplikasikannya.

Mengeksplor imajinasi tanpa batas untuk membuat hidup lebih baik.  Aplikasi seperti apa yang bisa kita buat dengan augmented reality nantinya?  Tentunya lebih kreatif dan interaktif dibanding dengan yang sudah mulai dirilis saat ini, atau malah nantinya kita menemukan cara untuk membangun dunia virtual yang terasa nyata.  Mari kita ciptakan keajaiban didunia nyata dengan augmented reality.

 

tutorial develop aplikasi AR


“Jangan Malu Untuk Memungut Sampah”, kalimat itu kubaca di kampusku tepatnya di gedung fakultasku, fakultas informatika Institut Teknologi Telkom Bandung. Memang dikampusku cukup bersih. Namun itu karena jasa Cleaning Service(CS) di kampusku yang menyapu, mengepel dan memungut sampah setiap hari. Memang pada kenyataannya di ITTelkom memiliki tenaga CS yang cukup banyak, sehingga bisa mengimbangi kebiasaan buruk warga kampus yang lain dalam memperlakukan sampah. Bukan berarti disini secara sepihak warga kampus lainnya seperti dosen, mahasiswa dan staf memiliki kebiasaan buruk dalam memperlakukan sampah mereka, tapi kalau kita melihat kampus kita di waktu sore atau malam hari, akan terlihat banyak sampah berserakan terutama di gedung kuliah. Kertas, bungkus makanan, tisu, plastik dan berbagai sampah lainnya akan terlihat berserakan menanti untuk diletakkan pada tempatnya oleh CS keesokan harinya. Inilah kenapa dikatakan bahwa warga kampus ITTelkom masih memiliki kebiasaan buruk dalam memperlakukan sampah. Bahkan ada yang bilang “biarlah, supaya CS masih punya kerjaan esok harinya.” Sembari membuang sampah sembarangan. Seandainya saja kita mau membuang sampah pada tempatnya, terlebih lagi mau memungut sampah yang berserakan untuk diletakkan di tempat sampah. Hal yang sederhana tapi memberi banyak manfaat.
Kenapa sih kita harus memungut sampah? Bukankah sudah tugas CS dan toh kampus kita sudah bersih setiap pagi? Memang setiap pagi kampus kita sudah dibersihkan, tapi coba kita berjalan di bagian belakang kampus kita. Akan kita lihat lapangan sampah yang bahkan lebih besar dari lapangan futsal. Tempat penampungan dan sistem pengolahan sampah dikampus tidak bisa mengimbangi kebiasaan buruk kita dalam memperlakukan sampah. Seandainya saja kita mau sedikit mengubah kebiasaan kita, menghilangkan rasa malu untuk mau memungut sampah yang kita temui dan membuangnya ke tempat sampah. Tentunya kampus kita akan berubah tampilan. Yang awalnya hanya bersih saat pagi hari, bahkan sampai malam hari pun akan tetap bersih. Tidak ada lagi sampah berserakan. CS pun tidak perlu menghabiskan waktu terlalu banyak untuk memunguti sampah yang harusnya menjadi tanggung jawab kita sehingga memiliki waktu lebih untuk membersihkan tempat lain.


Alasan pertama kenapa orang enggan untuk memungut sampah adalah malas dan tidak peduli. Padahal, sampah itu adalah tanggung jawab kita sebagai pembuat sampah. Coba kita pikirkan sejenak, kalau untuk tanggung jawab memungut sampah yang kita temui saja kita tidak bisa bertanggung jawab, bagaimana kita mau bertanggung jawab untuk hal yang lebih besar? Yang kedua adalah malu, kenapa malu? Banyak orang yang akan mengomentari kita, sok bersih lah, pemulung lah, dll. Kita enggan untuk dikkomentari seperti itu, justru pandangan kitalah yang harus kita ubah. Harusnya orang yang mengomentari dan tidak melakukannya yang malu. Mereka hanya bisaberkomentar tanpa melakukan apapun. Dan menurut saya pribadi, mau memungut sampah yang kita temui adalah hal yang membanggakan. Itulah kenapa saya tertarik membahas slogan yang ditempel di dinding kampus ITTelkom. Karena dari hal sederhana ini, kita memberi manfaat besar untuk diri sendiri dan dunia. Banggalah untuk memungut sampah yang anda temui!!

ERP alias Enterprise Resource Planning adalah aplikasi yang dimiliki suatu perusahaan untuk mengotomasi dan mensinkronisasi semua kinerja departemen yang ada di dalam perusahaan tersebut.  Bagi yang pertama kali mendengar ini terlihat baru dan membingungkan, namun secara sederhananya dapat dikatakan ERP ini mirip aplikasi sistem informasi skala besar yang bukan cuma lingkup satu departemen, tapi semua departemen  diperusahaan, dan semuanya harus memilki hubungan satu sama lain.  Bagian yang sulit adalah ERP merupakan implementasi dari ilmu manajemen manufaktur(MRP), namun lama kelamaan ini meluas untuk seluruh bisnis dan oleh Gartner Group diberi nama ERP.

Saat ini sudah banyak perusahaan yang menggunakan ERP, seperti : ExxonMobil, BASF, British Petroleum, ChevronTexaco, Wal-Mart, Coca-Cola, Hewlett Packard, Haliburton, Mitsui, Astra, Garuda, PERTAMINA, IndoMobil, Bank Mandiri, dll.  Perusahaan yang menggunakan aplikasi ERP ini sudah merasakan banyak manfaat dari terintegrasinya seluruh data dan kinerja departemennya melalui aplikasi online ERP.  Ini salah satu bukti lagi bahwa ilmu teknologi informasi adalah ilmu terapan yang akan memiliki kekuatan sangat powerfull jika diimplementasikan di bidang yang lain.

Awal dari masuknya tenkologi informasi sebagai pengolah data hanya dalam lingkup departemen saja sudah memberikan berbagai kemudahan.  Dan ERP ini memberikan pandangan bahwa cara implementasi ilmu teknologi informasi bisa begitu luas.  Tidak hanya terbatas pada hardware atau software sederhana saja, automasi pada industri bisnis telah melahirkan banyak kemudahan dan efisiensi.  Kalau kita mau menilik ke beberapa tahun yang lalu, orang akan cukup puas dengan aplikasi kasir yang hanya menangani pembukuan dan pergudangan, kemudian muncul hardware pendukung berupa scanner barcode yang membuat kerja kasir menjadi semakin menyenangkan.  Namun ketika si bos perusahaan mau malihat berapa laporan keuntungan si kasir harus merekap dan mendata laporannya, mungkin sekarang sudah banyak software yang langsung menyediakan neraca laba rugi, namun tentunya laba rugi suatu perusahaan tidak hanya terbatas pada kasir saja.  Ada gaji pegawai, sewa tempat, biaya administrasi seperti listrik, alat tulis, dan pasti akan lebih banyak hal kalu perusahaan yang bersangkutan makin besar.  Tentunya hanya melihat dari laporan penjualan, kita tidak tahu apakah sebenarnya perusahaan kita untung atau tidak.  Belum lagi muncul pertanyaan, bagaiman meningkatkan penjualan?  Apakah jumlah pegawai sudah efektif?  Mana saja produk yang harus dibeli dalam jumlah banyak karena laku?  Dan bahkan akan muncul pertanyaan, berapa jumlah produk laku yang harus dibeli sehingga laba kita maksimal?  Itu semua bisa kita jawab dengan ERP.  Sehebat itukah ERP?  Ya, karena sebelumnya pertanyaan tadi itu bisa dijawab oleh manusia, namun butuh manusia yang ahli di bidang manajemen bisnis dan pastinya perlu analisis waktu yang cukup lama, dan itupun hasilnya masih subjektif karena ada sisi manusiawi.  ERP hanyalah implementasi dari ilmu manajemen bisnis itu, dimana data dikelola dan teori tentang ilmu bisnis diimplementasikan dalam sebuah program.  Kehebatan ini bisa terjadi ketika teknologi informasi bersinggungan dengan industri bisnis.  Muncul aplikasi powrefull yang mampu meningkatkan kinerja dan keuntungan secara signifikan dengan resiko berupa penekanan cost produksi, sungguh sangat menguntungkan!

Kita sebagai pakar ilmu teknologi informasi saat ini lebih mengarah ke membuat aplikasi yang sudah pernah ada, ataupun mempelajari bagaimana cara memakai suat alikasi yang sudah ada.  Seandainya saja kita mau mengubah pola pikir kita untuk sedikit mempelajari ilmu di bidang lain, bisa jadi kita akan bisa menemukan terobosan lain semacam ERP di bidang keilmuan yang lainnya.  Jangan Cuma terbatas saja untuk mempelajari keilmuan, namun aplikasikan demi kehidupan yang lebh baik!

Internet Protocol Version 6 atau IPV6 protokol baru yang dikembangkan untuk mengatasi kelemahan dari IPv4.  Pada mulanya hal ini mendesak karena terbatasnya IPv4 dari segi jumlah.  ini mengakibatkan banyak diambil jalan tengah yang membuat banyak alamat IP jadi berantakan.  Idealnya setiap komputer yang terhubung ke internet memiliki satu alamat IP yang unik.  Karena jalan tengah yangdiambil ketika IPv4 mulai habis inilah yang membuat berantakan.  Cara ini antara lain NAT, CIDR dan private IP address.  Akibatnya sekarang IP tiap komputer tidak bisa dibilang unik.

Di dunia bagian Asia apalagi Indonesia, masalah ini ternyata belum dirasa perlu dipermasalahkan.  IPv4 sendiri yang sudah dipatenkan sejak tahun 70-an, saat ini baru tertib diikuti negara-negara di Amerika dan Eropa.  Di Indonesia sendiri tidak banyak yang terlalu memusingkan masalah IP address.  Bahkan macan-macan Asia seperti Jepang, China maupun Korea tidak terlalu tertib mengikuti aturan IPv4 ini.

Namun munculnya IPv6 yang sering disebut the recomendation for the IP next Generation protokol ini justru tidak terlalu ramai diminati warga Eropa dan Amerika.  Padahal banyak kelebihan yand ditawarkan oleh IPv6 ini dibanding IPv4, antara lain kelebihan dibidang securiti, jumlah IP yang unlimitted, kemampuan untuk serverless dan reconfig IP, manajemen yanglebih mudah dan yang terlebih lagi tidak perlu memakai NAT. hampir semua yang ada di IPv4 disediakan bahkan diperbaiki.  Metode header yang digunakan juga sangat memudahkan pengelolaan IPv6 ini.  Jelas IPv6 ini lebih baik alias better than IPv4, tapi kenapa warga Eropa dan Amerika yang sudah tertib dengan IPv4 ini enggan beralih ke IPv6?  apakah memang IPv6 ini tidak sebagus yang digembar-gemborkan?  Ternyata bukan itu, memang IPv6 lebih baik dari IPv4, tapi alasannya kenapa warga barat enggan berpindah adalah karena mereka telah tertib memakai IPv4.  Mereka enggan berpindah karena merasa IPv4 sudah bagus dan pemakaian di kalangan mereka sudah tertib.  Sebagai catatan warga barat sudah memakai IPv4 sejak tahun 70-an. Memang benar kata pepatah, merubah kebiasaan itu tidaklah mudah.  Padahal dengan peralihan ini akan banyak ditemukan penemuan dan pengembanganmenuju ke zaman yang lebih canggih lagi seiring berjalannya waktu.

Lain lagi dampak munculnya IPv6 ini di Asia.  Macan-macan Asia seperti Jepang, Korea dan China menyambut penemuan ini dengan antusias.  mereka dengan antusias membangun infrastruktur pendukung IPv6 di negaramasing-masing.  Bahkan membangun backbone khusus untuk IPv6.  Mungkin karena inilah warganya dengan senang hati memesan IPv6, karena support yang telah didukung IPv6 sudah bisa dinikmati.

Namun di Indonesia masih saja sedikit yang tertarik dengan penemuan baru ini.  Kalau warga barat enggan karena mereka sudah memiliki teknologi yang nyaman dengan mereka, warga asia lain merasa ini adalah kesempatan emas untuk mengikuti keteraturan dan bergerak meninggalkan warga barat yang skeptis, warga Indonesia masih belum terpikir sama sekali.  Mungkin ada beberapa orang yang sudah menikmati IPv6 ini, namun dukungan infrastruktur yang minim juga membuat pemakaian ini nonsense.  Namun menurut saya ini bukan karena infrasrtuktur warga Indonesia enggan memakai IPv6.  Masih banyak warga indonesia yang bahkan baru belajar mengenal internet.  Pendidikan mengenai teknologi harus terus ditumbuhkan.  Saya teringat salah satu iklan sosialisasi internet yang lucu, ada anak berkata pada ibunya “bu besok internet datang”, jawab ibunya dengan khawatir “pakai sendal ya nak…”.  Semoga saja di tahun 2010 ini sudah banyak warga yang cukup sadar dengan perlunya internet dan perlunya ketertiban mendaftarkan IP komputer masing-masing agar ketertiban di dunia maya bisa terwujud.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.