Internet Protocol Version 6

Internet Protocol Version 6 atau IPV6 protokol baru yang dikembangkan untuk mengatasi kelemahan dari IPv4.  Pada mulanya hal ini mendesak karena terbatasnya IPv4 dari segi jumlah.  ini mengakibatkan banyak diambil jalan tengah yang membuat banyak alamat IP jadi berantakan.  Idealnya setiap komputer yang terhubung ke internet memiliki satu alamat IP yang unik.  Karena jalan tengah yang diambil ketika IPv4 mulai habis inilah yang membuat berantakan.  Cara ini antara lain NAT, CIDR dan private IP address.  Akibatnya sekarang IP tiap komputer tidak bisa dibilang unik.

Namun di dunia bagian Asia apalagi Indonesia, masalah ini ternyata belum dirasa perlu dipermasalahkan.  IPv4 sendiri yang sudah dipatenkan sejak tahun 70-an baru tertib diikuti negara-negara di Amerika dan Eropa.  Di Indonesia sendiri tidak banyak yang terlalu memusingkan masalah IP address.  Bahkan macan-macan Asia seperti Jepang, China maupun Korea tidak terlalu tertib mengikuti aturan IPv4 ini.

Namun munculnya IPv6 yang sering disebut the recomendation for the IP next Generation protokol ini justru tidak terlalu ramai diminati warga Eropa dan Amerika.  Padahal banyak kelebihan yand ditawarkan oleh IPv6 ini dibanding IPv4, antara lain kelebihan dibidang securiti, jumlah IP yang unlimitted, kemampuan untuk serverless dan reconfig IP, manajemen yanglebih mudah dan yang terlebih lagi tidak perlu memakai NAT. hampir semua yang ada di IPv4 disediakan bahkan diperbaiki.  Metode header yang digunakan juga sangat memudahkan pengelolaan IPv6 ini.  Jelas IPv6 ini lebih baik alias better than IPv4, tapi kenapa warga Eropa dan Amerika yang sudah tertib dengan IPv4 ini enggan beralih ke IPv6?  apakah memang IPv6 ini tidak sebagus yang digembar-gemborkan?  Ternyata bukan itu, memang IPv6 lebih baik dari IPv4, tapi alasannya kenapa warga barat enggan berpindah adalah karena mereka telah tertib memakai IPv4.  Mereka enggan berpindah karena merasa IPv4 sudah bagus dan pemakaian di kalangan mereka sudah tertib.  Sebagai catatan warga barat sudah memakai IPv4 sejak tahun 70-an. Memang benar kata pepatah, merubah kebiasaan itu tidaklah mudah.  Padahal dengan peralihan ini akan banyak ditemukan penemuan dan pengembanganmenuju ke zaman yang lebih canggih lagi seiring berjalannya waktu.

Namun dampak munculnya IPv6 ini berbeda di Asia.  Macan-macan Asia seperti Jepang, Korea dan China menyambut penemuan ini dengan antusias.  mereka dengan antusias membangun infrastruktur pendukung IPv6 di negaramasing-masing.  Bahkan membangun backbone khusus untuk IPv6.  Mungkin karena inilah warganya dengan senang hati memesan IPv6, karena support yang telah didukung IPv6 sudah bisa dinikmati.

namun di Indonesia masih saja sedikit yang tertarik dengan penemuan baru ini.  Kalau warga barat enggan karena mereka sudah memiliki teknologi yang nyaman dengan mereka, warga asia lain merasa ini adalah kesempatan emas untuk mengikuti keteraturan dan bergerak meninggalkan warga barat yang skeptis, warga Indonesia masih belum terpikir sama sekali.  Mungkin ada beberapa orang yang sudahmenikmati IPv6 ini, namun dukungan infrastruktur yang minim juga membuat pemakaian ini nonsense.  Namun menurut saya ini bukan karena infrasrtuktur warga Indonesia enggan memakai IPv6.  Masih banyak warga indonesia yang bahkan baru belajar mengenal internet.  Pendidikan mengenai teknologi harus terus ditumbuhkan.  Saya teringat salah satu iklan sosialisasi internet yang lucu, ada anak berkata pada ibunya “bu besok internet datang”, jawab ibunya dengan khawatir ” pakai sendal ya nak…”.  semoga saja di tahun 2010 ini sudah banyak warga yang cukup sadar dengan perlunya internet dan perlunya ketertiban mendaftarkan IP komputer masing-masing agar ketertiban di dunia maya bisa terwujud.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s