“Jangan Malu Untuk Memungut Sampah”


“Jangan Malu Untuk Memungut Sampah”, kalimat itu kubaca di kampusku tepatnya di gedung fakultasku, fakultas informatika Institut Teknologi Telkom Bandung. Memang dikampusku cukup bersih. Namun itu karena jasa Cleaning Service(CS) di kampusku yang menyapu, mengepel dan memungut sampah setiap hari. Memang pada kenyataannya di ITTelkom memiliki tenaga CS yang cukup banyak, sehingga bisa mengimbangi kebiasaan buruk warga kampus yang lain dalam memperlakukan sampah. Bukan berarti disini secara sepihak warga kampus lainnya seperti dosen, mahasiswa dan staf memiliki kebiasaan buruk dalam memperlakukan sampah mereka, tapi kalau kita melihat kampus kita di waktu sore atau malam hari, akan terlihat banyak sampah berserakan terutama di gedung kuliah. Kertas, bungkus makanan, tisu, plastik dan berbagai sampah lainnya akan terlihat berserakan menanti untuk diletakkan pada tempatnya oleh CS keesokan harinya. Inilah kenapa dikatakan bahwa warga kampus ITTelkom masih memiliki kebiasaan buruk dalam memperlakukan sampah. Bahkan ada yang bilang “biarlah, supaya CS masih punya kerjaan esok harinya.” Sembari membuang sampah sembarangan. Seandainya saja kita mau membuang sampah pada tempatnya, terlebih lagi mau memungut sampah yang berserakan untuk diletakkan di tempat sampah. Hal yang sederhana tapi memberi banyak manfaat.
Kenapa sih kita harus memungut sampah? Bukankah sudah tugas CS dan toh kampus kita sudah bersih setiap pagi? Memang setiap pagi kampus kita sudah dibersihkan, tapi coba kita berjalan di bagian belakang kampus kita. Akan kita lihat lapangan sampah yang bahkan lebih besar dari lapangan futsal. Tempat penampungan dan sistem pengolahan sampah dikampus tidak bisa mengimbangi kebiasaan buruk kita dalam memperlakukan sampah. Seandainya saja kita mau sedikit mengubah kebiasaan kita, menghilangkan rasa malu untuk mau memungut sampah yang kita temui dan membuangnya ke tempat sampah. Tentunya kampus kita akan berubah tampilan. Yang awalnya hanya bersih saat pagi hari, bahkan sampai malam hari pun akan tetap bersih. Tidak ada lagi sampah berserakan. CS pun tidak perlu menghabiskan waktu terlalu banyak untuk memunguti sampah yang harusnya menjadi tanggung jawab kita sehingga memiliki waktu lebih untuk membersihkan tempat lain.


Alasan pertama kenapa orang enggan untuk memungut sampah adalah malas dan tidak peduli. Padahal, sampah itu adalah tanggung jawab kita sebagai pembuat sampah. Coba kita pikirkan sejenak, kalau untuk tanggung jawab memungut sampah yang kita temui saja kita tidak bisa bertanggung jawab, bagaimana kita mau bertanggung jawab untuk hal yang lebih besar? Yang kedua adalah malu, kenapa malu? Banyak orang yang akan mengomentari kita, sok bersih lah, pemulung lah, dll. Kita enggan untuk dikkomentari seperti itu, justru pandangan kitalah yang harus kita ubah. Harusnya orang yang mengomentari dan tidak melakukannya yang malu. Mereka hanya bisaberkomentar tanpa melakukan apapun. Dan menurut saya pribadi, mau memungut sampah yang kita temui adalah hal yang membanggakan. Itulah kenapa saya tertarik membahas slogan yang ditempel di dinding kampus ITTelkom. Karena dari hal sederhana ini, kita memberi manfaat besar untuk diri sendiri dan dunia. Banggalah untuk memungut sampah yang anda temui!!

4 thoughts on ““Jangan Malu Untuk Memungut Sampah”

  1. Sepaham dengan anda. Hal ini jadi pikiran saya beberapa minggu ini.

    Setelah saya menginap di dalam kampus, seringkali saya temui sisa-sisa kemasan baik itu kemasan botol minum bahkan makanan yang kadang cukup mengesalkan karena itu semua berserakan di meja-meja yang digunakan untuk be-rhotspot ria. Padahal tempat sampah yang disediakan hanya berjarak dua meter di belakangnya.

    Sungguh, betapa malaskah kita untuk memperlakukan apa yang sudah kita hasilkan?

    Terkadang geram saya melihat hal itu. Yang lebih menyesakkan adalah, saya adalah anak biologi yang secara ilmu pengetahuan tentunya lebih mengerti tentang nilai-nilai lingkungan. Semakin miris jika saya melihat latar belakang pendidikan yang hanya teraplikasikan sebagai teori semata tapi tak pernah menyentuh hati nurani dan kepedulian.

    Miris-miris…

  2. hahahaa,
    hanya sedikit berkomentar,,
    paling tidak dari diri sendiri udah nglaksanain,,
    =)

    maaf bang ung sapa ya??
    go green banget..

    • pada akhirnya memang kembali pada diri sendiri.. hehehe

      saya siapa? maksudnya?
      ya sama seperti kamu, tukang nulis di blog…

      go green, ah nggak juga. biasa wae..

  3. wow…saya suka banget sama foto tempat sampahnya… kelihatan bgt permainan DOF-nya…
    pake kamera apa nih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s