nagabumi – perspektif seorang pendekar silat di tanah jawa kuno

sudah lama banget ga baca novel, terakhir baca itu kalau ga salah harry potter – deathly hallow – sekitar tahun 2007 dan ini 2013 woi😮. semenjak masuk kuliah, sepertinya hobi baca ini mulai kutinggalin deh😦 padahal dulu suka banget baca novel2 tebel gitu.

oke, beberapa hari lalu, akhirnya aku pinjem buku nagabumi 1 punya @Undeedz yang sebenernya udah dari jaman kuliah S1 dulu pengen kupinjem, tapi ga begitu minat sih karena pengarangnya orang indonesia. Bukan berarti aku ga suka sastra karangan bangsaku sendiri, tapi biasanya novel karangan orang indonesia itu kurang nge-pop (harry potter, darren shan, sherlock dll), yep saya memang ga terlalu suka karya yang terlalu ‘sastra’  semacam lord of the rings yang bahasanya sangat bertele-tele menurutku😦 mungkin memang sense sastra saya murahan kali ya :p

buku ini berjudul Nagabumi 1 – Jurus tanpa bentuk,  sesuai perkiraan, memang bahasa uyang dipakai dibuku ini cukup bernilai sastra tinggi, yang bertele-tele (menurut saya) tapi yang aku kagumin banget itu semua referensi dan riset yang dilakukan buat nulis buku ini. Sebagai orang jawa asli, aku terkagum-kagum sama perspektif pak seno yang melakukan riset ke berbagai kitab dan prasasti di jawa sampe bisa menjelaskan secara detail bagaimana kehidupan di tanah jawa di abad ke 8 – 9 M, masa dimana candi borobudur yang awesome banget itu dibangun dibawah pengaruh kerajaan hindu dan budha.

Baru saat baca novel ini, kebayang bagaimana kehidupan kerajaan jawa kuno itu, bagaimana tanggapan rakyatnya, bagaimana isu politik dan agama yang ada pada saat itu (walaupun sebagian besar merupakan fiksi yang dibayangkan oleh pak seno) tapi dengan banyaknya referensi kitab dan prasasti jawa kuno, perspektif pak seno cukup rasional dan tentunya menarik🙂

Mungkin bagi sebagian orang buku ini bakal ngebosenin, karena banyak mengutip kata-kata dari kitab hindu, budha dan prasasti jawa kuno, tapi entah mengapa pengemasan cerita yang menceritakan dari sudut pandang orang pertama (pendekar sakti mandraguna yang berumur 100 tahun) ini jadi membuat menarik, karena membuka banyak perspektif yang bisa dilihat dari sebuah fakta, bagaimana kemungkinan perspektif cara kelicikan politik dengan memanfaatkan agama (isu yang akhir-akhir ini cukup ramai di Indonesia) seorang raja, penasehat kerajaan, dan rakyat bawah. Namun yang paling menarik menurutku itu tentang tokoh utama nya yang merupakan seorang pendekar yang cerdas, bagaimana di perpektif dia bisa melihat filsafat, ilmu negara dan ilmu agama menjadi landasan untuk membuat jurus silat yang baru – betapa nilai pengetahuan itu bisa didapat dari mana saja asal kita bisa menyarikannya dengan nalar dan akal kita, betapa yang paling berharga itu adalah pengetahuan🙂

Hal menarik lain adalah adanya penjelasan logis kenapa di pulau jawa peradaban nya tidak terlalu maju, padahal ada bukti bahwa di jaman itu orang jawa kuno bisa punya ilmu arsitek semegah borobudur,dengan kemampuan seni pahatan yang ga kalah awesome sama arsitekturnya. menurut perpektif pak seno sih karena memang di masa itu menulis dan membaca bukan sebuah hal umum, yang bahkan raja di masa itupun disangsikan apakah mereka bisa membaca dan menulis juga? dimana ada konspirasi organisasi tertentu yang menguasai ilmu pengetahuan dari membaca dan menulis untuk menyetir raja-raja dimasa itu (whatever sih yang bagian konspirasi ini, tapi intinya semakin membuka wawasan bagaimana sebuah pengetahuan itu bisa digunakan untuk mengatur segalanya). Pas ngebaca novel ini, aku juga jadi tau hukum agama budha dan hindu yang mengatur tentang kehidupan sehari-hari sampai kenegaraan layaknya agama islam.

jadi banyak sekali belajar sejarah tanah jawa deh, yang mungkin aku jadi tertarik karena beberapa waktu lalu pengin bikin skenario game yang settingnya tanah jawa kuno. Kaya jepang yang legenda ninjanya udah terkenal sampe mana-mana, China dengan cerita negarawan kerajaan kunonya (film redcliff, three kingdom dll), india dengan kisah-kisah dewanya (mahabarata dll) menurutku cerita pendekar tanpa nama ini boleh dibilang cukup bersaing deh :p. Bukan ga mungkin kan suatu saat kalo cerita ini dibuat jadi film atau game yang lebih ngepop dan santai penyampaian ceritanya daripada sebuah novel. Ga sabar deh buat baca buku keduanya,walo kata @Undeedz ngga semenarik buku 1 sih karena buku ke-2 nya lebih ‘sastra’.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s