yakin mau lanjut kuliah magister teknik di indonesia?

6 bulan sudah saya menyandang gelar magister teknik elektro dari salah satu kampus negri yang cukup oke di bandung, selama 6 bulan ini jadi waktu dimana saya berpikir dengan pertanyaan yang saya jadikan judul si artikel ini,

sedikit flashback, saya ingin sedikit bercerita tentang sebelum saya memutuskan untuk lanjut kuliah magister saya. Saya lulus di awal 2011, dan setahun setelah itu saya sempet join di sebuah perusahan software house besar yang kebetulan kliennya cukup oke, Bursa Efek Indonesia dan saya cukup banyak belajar disini – dan somehow memang waktu lulus saya punya cita-cita untuk bangun karir independent untuk jadi software engineer profesional, bukan membuat software house tapi waktu itu saya terbayang di masa depan saya jadi seorang consultant IT independent.

Stereotip di Indonesia

Oke kembali ke topik, mungkin sampe sekarang stereotype di Indonesia tentang mengambil kuliah magister (selain MBA) dan khususnya jurusan teknik atau engineering itu cuma bisa jadi dosen, kalaupun untuk PNS emang gelar itu bisa sebagai pendongkrak gaji, tapi… ngapain juga si repot-repot kuliah teknik? banyak kok jurusan yang “pengorbanan” untuk dapat gelar magisternya ga sesusah jurusan teknik (maaf ini cuma pendapat saya pribadi sih, bukan mengagung-agungkan jurusan teknik)

s2 = Dosen

sebelumnya saya memang sudah punya keinginan untuk lanjut kuliah karena saya tau buat dapet cita-cita saya jadi consultant IT independent saya emang perlu untuk lanjut kuliah pastinya, tapi emang mungkin waktu itu masih pemikiran bocah yang baru lulus cita-cita saya ketinggian mungkin, saya ingin lanjut s2 tapi di australia atau eropa, ga ada pikiran untuk kuliah magister di Indonesia  sama sekali, karena menurut saya dengan kuliah keluar negri paling tidak kita bisa membuka pandangan baru yang tentunya merupakan nilai lebih, atau mungkin bisa membuka pintu karir kita di luar Indonesia. Maaf saya malah jadi kepingin sedikit curhat, waktu itu saya ingin sekali bisa lanjut ke jurusan arsitektur di University of Sydney, tapi ternyata proses pendaftarannya cukup memakan waktu yang sangat lama. Time went by, ga kerasa waktu itu saya udah hampir setaun kerja dan waktu itu ada informasi tentang beasiswa di kampus saya mendapat gelar magister, dan waktu itu karena sekedar iseng akhirnya saya coba untuk mendaftar dengan jalur beasiswa unggulan dari DIKTI. Dan akhirnya keputusan itu membuat saya di posisi yang galau, karena alhamdulillah saya ketrima beasiswanya. Oke sampai di tulisan ini jangan dulu menjudge saya sombong atau bagaimana, tapi kembali ke judul artikel ini, saya punya pertanyaan yang selalu kepikiran selama saya menuntut pendidikan magister.

gelar magister di Indonesia kepake ngga sih?

coba bayangkan, anda sudah dapet pekerjaan dan anda ditawari untuk keluar dari pekerjaan anda sekarang dengan iming-iming sekolah gratis, dan yang paling perlu anda ingat adalah belum tentu juga bisa dapat pekerjaan yang lebih baik dari yang sekarang dengan gelar S2 anda, tentunya setelah lulus s2 pun kita akan kembali ke dunia kerja kita jadi menurut saya pendidikan s2 itu hanya sekedar modal untuk semakin dihargai saat berkarir lagi nantinya –mohon maaf lagi jika ada yang kurang setuju dengan statement saya disini saya tunggu diskusinya di komentar🙂

memang pendidikan itu penting, khususnya pendidikan s1 yang kita semua pasti setuju akan jauh perbedaannya dengan yang tidak melanjutkan pendidikan sarjana alias cuma lulus SMA, tapi kalau s2 ini gimana? emang perlukah? atau bisa dibilang sekolah sampai s2 itu too much atau overkill? pandangan stereotype ini seakan diamini banyak orang dengan pertanyaan yang sering banget ditujukan ke saya selama 1,5 tahun menempuh studi magister saya, “wah sekarang ambil s2 ya, mau jadi dosen?” hahaha,, semoga anda sekalian sekarang tau kenapa saya galau buat nentuin mau nerima beasiswa atau ngga waktu itu, tapi pada akhirnya setelah berdiskusi dengan keluarga saya putuskan untuk mengambil kesempatan yang mungkin tidak datang 2 kali ini.

wah sekarang ambil s2 ya, mau jadi dosen?

dan waktu itu yang paling membuat saya bertambah galau adalah ketika sekitar 1 bulan saya kuliah saya menerima email dengan attachment conditional offering letter dari Usyd rencana awal saya waktu itu adalah mencoba jalur beasiswa lewat Beasiswa Unggulan Dikti atau Beasiswa Kementrian Australia (yang ini kesempatannya sangat tipis😐 ) namun skema BU sudah saya pakai untuk kuliah saya saat itu, yasudahlah… untuk mempersingkat waktu curhat saya akhirnya saya masih melanjutkan kuliah saya di Indonesia *sedih* saya harus say goodbye sementara waktu dengan cita-cita saya yang udah sempet dadah-dadah di depan saya, semoga nantinya saya diberi kesempatan ini lagi.

think outside the box

Karena sudah terlanjur basah, saya pun melanjutkan kuliah saya namun masih dengan kegalauan yang disponsori oleh stereotip yang sempet kujelasin tadi. dan yang paling menyedihkan dari kisah ini adalah ternyata stereotip ini benar!!! iya benar!!! saya sekarang menjadi tenaga pengajar di salah satu universitas swasta yang cukup oke di Bandung yang dulunya almamater s1 saya. bukan berarti saya menghinakan pekerjaan dosen ya, tapi saya menyayangkan kebenaran stereotip tentang s2 di indonesia dimana pendidikan yang lebih tinggi dari sarjana baru bisa dihargai sebagai dosen, perusahaan atau dunia industri di Indonesia masih belum bisa menghargai level pendidikan ini ternyata, masih jauh dengan dunia barat dimana tidak sedikit perusahaan yang memiliki divisi riset yang membayar mahal pegawai dengan gelar master maupun PhD.

Kembali ke cerita kuliah saya dimana saya ingin bercerita tentang usaha saya untuk membantah stereotip ini. Kuliah saya ini kuliah reguler bukan kelas karyawan jadi saya punya cukup banyak waktu luang yang saya isi dengan kerja serabutan jadi kuli coding (lumayan buat jajan-jajan) dan untuk mengusir kegalauan saya terhadap stereotip tadi akhirnya saya memutuskan bahwa saya harus bisa mencari jalan lain supaya jalan saya setelah lulus nanti tidak cuma ada satu jalan saja (–menjadi dosen) yaitu dengan cara sok-sokan ikutan tren yang lagi booming saat ini yaitu startup IT. Dari situ saya banyak sekali belajar banyak hal dan juga jadi mendapat beberapa prestasi yang cukup membanggakan di beberapa kompetisi bisnis teknologi skala nasional dan sempat jadi finalis kompetisi internasional juga. Dari sinilah banyak wawasan lain kudapat selain dari bangku kuliah magister saya, kalo saya berpikir cuma bisa jadi dosen ya nantinya cuma sekedar jadi dosen, tapi kalo saya berpikir saya bisa menjadi yang lain maka hal itu pun sebenarnya possible🙂

semua berawal dari pemikiran anda, kalau anda tidak pernah bepikir untuk bisa yah ga akan pernah bisa

Memang pemikiran untuk membuat startup IT memang masih belum bisa saya seriusi secara totalitas sampai saat ini, namun dari berkecimpung disana saya mendapat banyak ilmu, salah satunya adalah untuk berani berbeda, untuk berani think out of the box dan akhirnya selama pendidikan magister saya saya mempelajari lebih dalam di bidang yang yang masih sepi peminatnya yaitu gamifikasi, interaction design dan agile development. Beberapa bidang ini pemilihannya memang tidak jauh dari dunia startup IT saat ini. Selain dari kelas saya juga belajar dari banyak artikel online dan juga mengikuti kelas online yang sekarang sangat gampang diakses, thanks to internet! dan yang paling seru adalah pola pikir ini membuat saya berani untuk cari pekerjaan selain menjadi dosen.

when master magister find a job

Memang tadi sempat saya katakan bahwa saya sendiri sudah membuktikan kebenaran stereotip ini, tapi di dalam hati, saya masih ingin membantah kebenaran stereotip ini dan akhirnya saya membuat “pushing magister limit project” *namanya sok asik* memang namanya doank yang keren, tapi sebenernya saya cuma apply-apply kerja layaknya jobseeker yang lain kok, namun dengan syarat yang berbeda yaitu saya cuma apply ke lowongan yang menerima lulusan s2.

Ternyata memang, lowongan s2 ini tidak banyak😦 dan ga bisa dipungkiri dari sekian banyak lowongan dapat saya simpulkan bahwa ternyata experience (berapa lama kita pernah bekerja) itu lebih berharga dari gelar magister. banyak perusahaan yang lebih menghargai calon karyawannya dari jam terbang karyawan ini bekerja. Ternyata keputusan saya untuk melanjutkan s2 saat baru memiliki pengalaman kerja 1 tahun itu masih sangat kurang, apalagi waktu itu level saya masih jadi seorang staff alias kasta terendah seorang pegawai. Jika membicarakan golongan pegawai di sebuah perusahaan tentunya akan sangat bervariasi, tapi yang saya tangkap sejauh ini di setiap perusahaan secara umum ada 3 level karyawan yaitu level staff, level supervisor dan level manager. Kemudian saya membuat penyimpulan tentang kenapa lulusan s2 sulit untuk dapat pekerjaan. Jika dari sisi Human Resources di perusahaan sebenarnya nilai s2 itu merupakan nilai lebih yang diapresiasi dengan penempatan di level atas, maupun dengan nilai gaji yang lebih tinggi, namun karena pengalaman saya baru 1 tahun menjadi staff, hal ini yang menjadikan posisi saya sulit, mau dibayar mahal atau diletakkan di posisi atas tentunya kurang menguntungkan bagi perusahaan, tapi kalau dibayar murah tentunya saya yang merasa dirugikan.

Di project iseng ini saya coba apply ke beberapa perusahaan, yang pertama adalah golongan perusahaan yang menerima lulusan fresh graduate s1 dan s2, biasanya yang mengeluarkan vacancy ini adalah bank atau beberapa BUMN yang cukup besar. Saya sudah mengikuti beberapa proses tesnya tapi ternyata s1 atau s2 ini ternyata dianggap sama😐 disetiap tes terakhir saya selalu memberanikan diri bertanya pada waat wawancara user maupun ke HR seberapa jauh gelar s2 saya akan dihargai oleh perusahaan dan ternyata semuanya menjawab akan menempatkan posisi awal fresh graduate s2 di posisi yag sama dengan fresh graduate s1, namun ada juga beberapa (ya beberapa) perusahaan yang menjelaskan setelah beberapa tahun (ya benar beberapa tahun) gelar s2 nya akan digunakan untuk penyesuaian gaji karena memang beberapa (sekali lagi beberapa) dari perusahaan ini mengapresiasi level pendidikan.

Golongan perusahaan kedua yang saya apply adalah perusahaan yang menawarkan posisi di level supervisor/manager dengan experience 3-5 tahun. Oke yang kedua ini emang sangat untung-untungan sih alias bahasa kerennya pushing my luck, tapi disini saya asumsikan ngawur saja kalau saya punya experience sekitar 3 tahun (1 tahun bekerja dan 2 tahun kuliah s2) hahaha… biar lebih oke saya sebut aja hal ini pushing my limit, yaitu sejauh mana limit dari gelas s2 ini bisa diapresiasi… dan di pengalaman ini ternyata kegiatan saya nge-freelance & aktif di kegiatan startup menjadi nilai lebih –saya sendiri pun kaget😮

Kalau dari sisi saya pribadi sih saya lebih tertarik di golongan yang kedua, selain dari gaji lebih menarik saya juga merasa saya bisa ngembangin karir saya sebagai independent software engineer. Dan cerita menariknya adalah ketika ternyata saya banyak dipanggil tes dari golongan yang kedua ini WOW! padahal saya ga punya experience, dan yang paling membuat senang adalah ternyata s2 itu dihargain lho di perusahaan swasta juga, jadi ternyata masalahnya adalah saya termakan stereotip kebanyakan orang dan jadi kurang pede buat apply-apply sebagai experienced graduate. Dan sebagai penutup artikel ini akhirnya saya menekatkan diri saya untuk membuka lembaran pengalaman kerja baru menjadi seorang project manager di sebuah perusahaan swasta. Hal yang membuat saya sendiri masih kaget adalah dengan bantuan gelar saya ini ternyata saya bisa naik level dua kali secara langsung, dari staff ke manager, tanpa melewati level supervisor walaupun dengan sedikit sacrifice sih, saya belum dihargai dengan gaji full seorang manager yang sudah benar-benar punya experience. Tapi no problemo lah, semua ada jalannya dan walaupun masih sedikit ga pede buat duduk di posisi baru ini ya harus di pede-pede in,  now it’s time to pushing my limit in real.

18 thoughts on “yakin mau lanjut kuliah magister teknik di indonesia?

  1. eaaaa,,,, aku baru dapet beasiswa kantor juga ini, walopun lulus s2 jg jabatan tetep2 aja, mayan deh gratis ini. masih bisa ga ya sekolah teknik2 hehehe,,, huuuff now it’s time to pushing my limit in real.
    *postingannya panjang tp aku baca sampe slese hoho

    • Wah selamat ya dapat beasiswa kantor😀
      enak lah, bisa dapet gelar tanpa sacrifice pekerjaan,😀
      terharu nih dibela-belain baca post nya sampe selesai, so apakabar kuliahnya mba wulan?

  2. wah ternyata stereotip tersebut benar juga ya… sehabis jadi sarjana, langsung ambil pasca-sarjana, mau jadi apalagi kalau bukan dosen? mau kerja.. susah lantaran perusahaan ga mau naikin gajinya (jadi ajah gajinya disamain sama S1). dan sangat betul bahwa lowongan kerja untuk S2 kebanyakan di PNS atau BUMN. tapi di PNS lebih fair, karena ada formasi-nya, di PNS… S2 beda sama S1 (dari segi gaji, golongan dan jabatan fungsional). Klo BUMN, saya kurang tau. Saya baru tahu kalau informasinya seperti postingan di atas

    kalau mau S2 di swasta, sejauh yg saya lihat di lingkungan saya.. kebanyakan yg kuliah S2 pada sambil kerja (mostly, kelas karyawan), setelah lulus, baru diangkat jadi Project Manager.

    by the way, selamat ya udah jadi project manager.

    next level: project manager coordinator, senior manager, general manager (GM), senior general manager (SGM), Vice President (VP), Board of Director (BoD), Dirut

    (ada ga ya yg buka lowongan kerja sbg dirut?? wkwkwk :mrgreen:)

  3. Pingback: Yakin mau jadi Programmer? | Pool of Knowledge

  4. ga ada junior senior. besok bisa jadi kmu jadi bos saya hahaha
    iya nih di kantor ada beasiswa S2 di Telkom Univ, tapi MM, bukan MT. Diskon 50%, kata Bos saya materinya bagus.. sebaiknya ikut… tapi uangnya mau dipake buat DP rumah😦

  5. Pingback: Refleksi 2014 | arifsetiawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s